BALIKPAPAN-Selama dua minggu menggelar pre launching Citra Bukit Indah (CBI) Balikpapan, Ciputra berhasil meraup penjualan sebesar Rp 50 miliar. Hal ini dikatakan oleh Deputy Project Manager CBI Alfa saat puncak acara pre launching di Hotel Novotel Balikpapan, Sabtu (31/5).

Alfa menerangkan, CBI merupakan project ketiga Ciputra di Kalimantan. Sebelumnya sudah ada Citra Grand Banjarmasin dan Citraland Samarinda. Khusus perumahan Citra Bukit Indah dibangun dengan konsep wellness yang menyeimbangkan antara pikiran, tubuh, dan semangat.

“Dengan konsep ini, kita bisa menemukan arti hidup. Karena ada 7 elemen di dalamnya, environmental, physical, emotional, intelectual, spiritual, social, dan occupational,” terang Alfa.

Selain itu, CBI juga mengususng konsep clustering system, secure environment, dan green and encofriendly environment.

Sebagai kluster pertama di lahan seluas 21 ha tersebut, Ciputra menghadirkan The Green Ville yang terinspirasi dengan kesegaran dedaunan hijau.

“Ciputra tidak lagi menonjolkan konsep perumahan dengan membagi kluster sesuai arsitektur bangunan, tetapi lebih berorientasi kepada keseimbangan dan perbaikan gaya hidup, khususnya terhadap lingkungan, pikiran, dan kesehatan,” ujarnya.

Dikatakannya, ada 4 tipe rumah pada The Green Ville, yaitu The Citrus (down slope) dan The Olive (up slope) dengan ukuran 7×25 meter, The Red Palm (down slope) dengan ukuran 10×25 meter. Kemudian The Red Cypress (flat) dengan ukuran 10×25 meter, The Cypress (flat) dengan ukuran 10×16 meter, The Palm (down slope) dengan ukuran 10 x 16 meter. Ada juga The Meadow (flat) berukuran10x20 meter, dan The Evergreen (flat) dengan ukuran 12×25 meter.

“Harga yang kami tawarkan untuk kluster pertama ini berkisar Rp 893 juta hingga Rp 3 miliar,” jelasnya. Dan untuk memaksimalkan penjualan, CBI bekerjasama dengan 8 bank dan 3 agen penjualan Balikpapan, yaitu Mandiri, Bank Niaga, Danamon, Bank Central Asia, Panin Bank, NISP, PermataBank, Bank Internasional Indonesia, Ray White, Era, dan Century 21.

Pada pre launching yang dihadiri sekitar 750 undangan tersebut, Vina Panduwinata sebagai bintang tamu tampil memukau dengan menyanyikan sebanyak 13 lagu dari album-album hits terdahulu. (*/fir)

Advertisements

Keseriusan Pemkot Balikpapan untuk menegakkan peraturan daerah (Perda) nomor 4 Tahun 2000 tentang Izin Mendirikan Bangunan (IMB) patut diacungi jempol. Sebuah Hotel milik Tjoa Suzana Darwis bernama Hotel Grand Piramid (Hotel GP) yang terletak di Jl Mayjend Sutoyo Gunung Malang terancam dibongkar karena diduga tidak sesuai dengan Perda IMB Balikpapan. Tak hanya itu, 7 PNS dikabarkan terlibat dan harus mempertanggungjawabkan kelalaian sehingga berdiri Hotel GP yang melanggar aturan.

“Bangunan hotelnya terlalu mepet dengan rumah warga padahal kalau tidak salah sesuai Perda IMB pendirian bangunan harus memiliki jarak sekurang-kurangya 3 meter dengan rumah warga,” beber Staf Bagian Hukum Pemkot Balikpapan Asmiran kepada Post Metro belum lama ini. Hotel GP sendiri lokasi persisnya di samping pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) PT PLN Gn Malang.

Selain itu, kata Asmiran, bagian fisik bangunan tidak sesuai dengan aturan karena jembatan masuk telah menutupi trotoar jalan yang fungsinya diperuntukkan bagi pejalan kaki.

“Pokoknya mas ada tiga pelanggaran masing-masing bangunan hotel tidak memiliki jarak normal dengan rumah warga, jembatan hotel menutupi trotoar serta menambah bagian fisik bangunan yang tidak sesuai dengan site plan pembangunan hotel,” ungkapnya.

Asmiran mengaku, melihat pelanggaran IMB ini maka pemilik bangunan diancam hukuman penjara selama 6 bulan atau denda Rp 6 juta dengan konsekuensi harus melakukan revisi site plan, IMB dan UKL-UPL.

“Ya kalau tidak direvisi pemilik bangunan harus dijebloskan dalam penjara atau harus membayar denda Rp 6 juta,” ancam Asmiran.

Ketika ditanya siapa yang bertanggung jawab terhadap pembangunan Hotel GP yang telah melanggar aturan ini? Aspiran mengaku, dirinya tidak mengetahui secara pasti namun para PNS yang terlibat akan mendapat sanksi dari Pemkot sesuai dengan peraturan pemerintah (PP) Nomor 30 tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin PNS.

“Kalau saya tidak salah PNS yang terlibat sebanyak 7 orang telah diketahui oleh pak Rizal (wakil walikota Balikpapan, red) dan sanksinya kemungkinan penurunan jabatan, pemotongan gaji atau mutasi,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Badan Perizinan dan Investasi Daerah (BPID) Pemkot Balipapan Drs Suryanto MM yang dihubungi Post Metro lewat ponselnya mengatakan, untuk masalah IMB pembangunan Hotel GP ini telah diserahkan sepenuhnya kepada Dinas Penataan Kota dan Pemukiman (DPKP) sedangkan BPID hanya sebatas menyetujui saja.

“Wah kalau IMB lebih jelas kepada DPKP. Jadi tolong tanyakan saja kepada DPKP,” singkat Suryanto menjawab.(bm-4)

Pemkot Balikpapan saat ini tengah mempersiapkan pembangunan hutan konservasi dalam bentuk Kebun Raya Balikpapan (KBR) seluas 250 hektare yang berada di kawasan Kilometer 15 Hutan Lindung Sungai Wain (HLSW) Kelurahan Karang Joang Balikpapan Utara (Balut).

Pembangunan KRB yang cukup strategis dalam mendukung tekad Balikpapan untuk menjadi salah satu daerah tujuan wisata yang di dalamnya meliputi penelitian, edukasi sehingga masyarakat dapat menikmati alam hutan dan tumbuhan Kalimantan.

Menurut Keterangan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) Drs H Syahrumsyah Setya MSi, rencananya KBR akan dimulai pembangunannya tahun ini (2008, Red) yang akan dihadiri Menteri Pekerjaan Umum (PU) Ir Djoko Kirmanto Dipl.HE, Menteri Kehutanan MS Kaban, Gubernur Kaltim Drs Yurnalis Ngayoh MSi, Ketua LIPI Prof Dr Umar AJ, Apt MSc dengan total undangan sebanyak 300 orang, dimana separo diantaranya pejabat PU pusat.

“Dalam acara tersebut juga dilakukan diskusi ilmiah master plan mengenai KBR, semacam road show,” terang Syahrum ketika ditemui Post Metro, di ruang kerjanya, Selasa (27/5). Ia melanjutkan, diskusi ilmiah berlangsung Senin 2 Juni di Hotel Gran Senyiur, Selasa dilanjutkan dengan kunjungan ke lapangan dan diskusi ilmiah di aula balaikota.

Selain itu, usai melakukan peletakan batu pertama, lanjut dia, rombongan akan menyempatkan meninjau Waduk Manggar. Syahrumsyah menuturkan, nantinya keberadaan KRB memiliki perbedaan dibanding dengan Kebun Raya Samarinda (KRS). Didalam KRB nantinya akan dilengkapi dengan fasilitas jembatan gantung, selain itu juga tidak ada unsur entertaiment di dalamnya. “Seperti ada panggung hiburan musik. Semuannya murni untuk melestarikan hutan,” sebut dia.

Dalam tahap pertama pembangunan fisik KRB, lanjut dia, akan menelan anggaran fisik sebesar Rp 1 miliar. Syahrumsyah mejelaskan bahwa saat ini aspek-aspek perizinan diantaranya Detail Engineering Design (DED), Master Plan, Amdal telah rampung. “Pembangunan fisik meliputi, jalan masuk, kantor serbaguna, ticket box, pembibitan permanen,” paparnya seraya menyebutkan, KRB tidak merusak HLSW yang memiliki luas sekira 9 hektare dan terbagi tiga kawasan diantaranya hutan virgin atau belum pernah dijamah, terbatas dan penempatan. Sehingga pembangunan KRB hanya dilakukan di hutan penempatan yang merupakan hutan sekunder pernah mengalami kebakaran dengan luas 250 hektare. “Namun dalam pembangunannya akan dilakukan secara bertahap yaitu 140 hektare terlebih dahulu,” ungkapnya.

HLSW sendiri menyimpan banyak keanekaragaman hayati misalnya sekitar 200 spesies burung, serta berbagai satwa langka antara lain payau (rusa sambar), orangutan (Pongo pygmaues) serta beruang madu (Helarctos malayanus) yang merupakan binatang langka maskot kota Balikpapan.(aya)